cold storage

Cold Storage: Pengertian dan Beragam Jenisnya

Cold Storage: Pengertian dan Beragam Jenisnya Cold Storage atau gudang pendingin adalah fasilitas yang dirancang untuk menyimpan berbagai jenis produk pada suhu rendah dengan tujuan mempertahankan kesegaran dan kualitasnya. Di sektor industri makanan, farmasi, dan logistik, Cold Storage memiliki peranan penting dalam menjaga produk agar tetap aman untuk dikonsumsi dan mencegah kerusakan. Pengertian Cold Storage Cold Storage merupakan ruang penyimpanan yang beroperasi pada suhu tertentu, biasanya berkisar antara -18°C hingga 10°C, tergantung pada jenis produk yang disimpan. Fasilitas ini digunakan untuk menyimpan berbagai barang seperti makanan beku, sayuran segar, daging, ikan, obat-obatan, dan vaksin. Dengan pengaturan suhu yang tepat, Cold Storage dapat memperpanjang umur simpan produk dan menjaga kualitasnya. Fungsi Cold Storage Cold Storage memiliki beberapa fungsi utama yang sangat penting dalam pengelolaan barang: Memperpanjang Masa Simpan: Salah satu fungsi utama Cold Storage adalah memperpanjang masa simpan produk. Suhu rendah di dalam Cold Storage menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperlambat reaksi kimia yang dapat menyebabkan pembusukan. Dengan cara ini, produk seperti makanan dan obat-obatan dapat disimpan lebih lama tanpa kehilangan kualitasnya. Menjaga Kualitas Produk: Cold Storage berfungsi untuk menjaga kualitas produk dengan mempertahankan suhu yang stabil dan sesuai dengan kebutuhan spesifik setiap jenis produk. Dengan menjaga suhu yang tepat, Cold Storage membantu memastikan bahwa rasa, tekstur, dan nutrisi produk tetap terjaga. Mencegah Kerugian: Dengan menyimpan barang di Cold Storage, perusahaan dapat mencegah kerugian akibat kerusakan atau pembusukan. Suhu yang tidak stabil dapat menyebabkan perubahan kualitas yang signifikan pada produk, sehingga penting untuk menjaga kondisi penyimpanan yang optimal. Cold Storage juga membantu mengurangi limbah produk yang disebabkan oleh kerusakan, sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi biaya. Jenis-jenis Cold Storage Cold Storage dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan suhu operasional dan kebutuhan penyimpanan, antara lain: Tabel 1. Jenis-jenis Cold Storage Cold Storage merupakan solusi penting dalam menjaga kualitas produk yang membutuhkan kondisi penyimpanan khusus. Dalam beberapa kasus, kebutuhan spesifik ini dapat dipenuhi melalui custom Cold Storage, yang dirancang untuk menyesuaikan suhu dan kelembapan sesuai dengan jenis produk yang disimpan. Penerapan teknologi dalam pengelolaan Cold Storage juga semakin memudahkan perusahaan dalam memonitor kondisi penyimpanan secara real-time, sehingga efisiensi operasional dapat terjaga dengan baik.

Cold Storage: Pengertian dan Beragam Jenisnya Read More »

Proses Pembuatan Cold Storage: Dari Desain hingga Instalasi

Proses Pembuatan Cold Storage: Dari Desain hingga Instalasi Cold Storage atau penyimpanan dingin, merupakan fasilitas yang dirancang untuk menjaga suhu rendah yang stabil guna memastikan kualitas dan keamanan produk-produk yang mudah rusak, seperti makanan, obat-obatan, dan bahan kimia. Proses pembuatan Cold Storage melibatkan beberapa tahapan penting yang dimulai dari perencanaan hingga instalasi. Artikel ini akan membahas langkah-langkah tersebut secara mendetail. Perencanaan Langkah pertama dalam pembuatan Cold Storage adalah melakukan perencanaan dengan cermat. Hal ini mencakup pemilihan jenis produk yang akan disimpan, seperti makanan segar, daging, atau obat-obatan. Penentuan suhu penyimpanan yang diperlukan juga sangat penting; misalnya, suhu -18°C untuk daging beku atau 0°C hingga 10°C untuk produk segar. Pemilihan lokasi strategis untuk Cold Storage sangat krusial. Lokasi harus mudah diakses dan memiliki infrastruktur pendukung seperti listrik dan air. Selain itu, lokasi harus jauh dari sumber kontaminasi dan memiliki ventilasi yang baik. Kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan harus dihitung berdasarkan volume dan frekuensi penyimpanan produk. Kapasitas Cold Storage biasanya berkisar dari 5 ton hingga lebih dari 200 ton, tergantung pada kebutuhan pengguna. Desain Setelah perencanaan selesai, langkah berikutnya adalah merancang Cold Storage sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Desain harus mencakup dimensi ruang (panjang, lebar, tinggi), jumlah ruang penyimpanan, serta ketebalan dinding untuk menjaga suhu di dalam. Penting untuk menentukan spesifikasi teknis seperti jenis bahan insulasi yang akan digunakan (misalnya polyurethane foam atau panel insulasi modular) dan sistem pendingin yang efisien. Desain juga harus mempertimbangkan aliran udara dan sirkulasi dingin untuk memastikan distribusi suhu yang merata di seluruh ruangan. Konstruksi Konstruksi Cold Storage dimulai dengan pembangunan struktur dinding, lantai, dan atap menggunakan bahan insulasi yang telah dipilih. Semua sambungan dan titik potong harus terisolasi dengan baik untuk mencegah kebocoran udara dingin. Setelah struktur selesai dibangun, langkah selanjutnya adalah memasang sistem pendingin. Ini termasuk pemasangan kompresor, evaporator, dan kondensor sesuai dengan desain yang telah direncanakan. Pastikan semua peralatan terpasang dengan aman dan sesuai dengan spesifikasi pabrik. Sistem pendingin adalah komponen kunci dalam Cold Storage. Pemilihan peralatan pendingin berkualitas tinggi sangat penting untuk menjaga suhu yang stabil di dalam ruangan. Jenis refrigeran yang digunakan juga harus sesuai dengan standar lingkungan dan efisiensi energi. Memasang sistem keamanan yang memadai serta sistem monitoring suhu dan kelembaban secara real–time adalah langkah penting untuk memastikan kondisi penyimpanan yang aman dan stabil. Sistem ini membantu mendeteksi secara dini jika terjadi gangguan pada suhu atau kelembaban di dalam Cold Storage. Setelah semua komponen terpasang, lakukan pengujian sistem pendingin untuk memastikan semua bagian berfungsi dengan baik. Uji beban dilakukan untuk memastikan sistem mampu mempertahankan suhu yang telah ditentukan dalam berbagai kondisi operasional. Kalibrasi sensor suhu juga diperlukan agar dapat memberikan pembacaan akurat selama penggunaan. Setelah Cold Storage selesai dibangun dan beroperasi, perawatan rutin menjadi kunci dalam memastikan kinerja optimal dari fasilitas tersebut. Pembersihan berkala, kalibrasi peralatan, serta pemeliharaan sistem pendingin sangat penting untuk mencegah kerusakan dan menjaga keandalan Cold Storage. Pembuatan Cold Storage adalah proses kompleks yang memerlukan perencanaan matang mulai dari desain hingga instalasi. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas secara sistematis, pengguna dapat memastikan bahwa fasilitas Cold Storage dapat berfungsi dengan baik untuk menjaga kualitas produk-produk yang memerlukan suhu terkendali. Cold Storage tidak hanya penting dalam industri makanan tetapi juga dalam sektor farmasi dan pertanian, sehingga pemahaman menyeluruh tentang proses pembuatannya sangatlah vital bagi pelaku industri terkait.

Proses Pembuatan Cold Storage: Dari Desain hingga Instalasi Read More »

Tips Merawat Cold Storage Agar Tetap Optimal dan Tahan Lama

Tips Merawat Cold Storage Agar Tetap Optimal dan Tahan Lama Cold Storage merupakan gudang pendingin dengan kapasitas besar, untuk menyimpan bahan makanan yang mudah rusak atau bahan makanan yang membutuhkan suhu dingin. Untuk itu diperlukan perawatan dan pemeriksaan rutin supaya Cold Storage dapat beroperasi dengan maksimal dan kualitas produk yang disimpan tetap terjaga. Perawatan Cold Storage idealnya dilakukan setiap 4 bulan sekali. Perawatan Cold Storage meliputi pemeriksaan, pembersihan, dan penggantian komponen refrigerasi atau komponen elektrikal apabila diperlukan. Gambar 1. Cold Storage Koronka Berikut ini beberapa bagian yang perlu diperhatikan dalam perawatan Cold Storage : Pembersihan Kondensor Kondensor merupakan alat yang digunakan untuk merubah refrigerant dari gas menjadi cair. Kondensor terdiri dari coil dan fan yang berfungsi mendinginkan refrigerant ketika udara tertiup diantaranya. Sejumlah kalor yang terdapat pada refrigerant dilepaskan ke udara bebas dengan bantuan kipas. Agar proses pelepasan kalor bisa lebih cepat, pipa kondensor didesain berliku dan dilengkapi dengan sirip. Untuk itu pembersihan sirip-sirip pipa kondensor sangat penting agar perpindahan kalor refrigerant tidak terganggu.  Gambar 2. Sirip-sirip Kondensor Jika sirip-sirip kondensor dibiarkan dalam kondisi kotor dapat menyebabkan proses pendinginan menjadi tidak maksimal. Lakukan pembersihan sirip-sirip kondensor minimal 3 kali dalam 1 tahun dengan menggunakan jet steam atau sikat basah. Pemeriksaan Bagian pintu Bagian pintu yang perlu diperhatikan dalam perawaratan adalah gasket, handel, dan heater pintu. Apabila gasket pintu sudah keras (tidak lentur), retak, atau sobek, segera lakukan penggantian. Handel pintu yang rusak biasanya karena operasional yang terlalu berat (menutup pintu dengan dibanting) atau karena usia. Segera lakukan penggantian handel pintu Cold Storage apabila sudah tidak mampu beroperasi dengan baik. Heater pintu juga perlu diperhatikan karena bagian tersebut memiliki fungsi salah satunya untuk menghambat udara dingin keluar dari Cold Storage. Apabila salah satu atau ketiga bagian tersebut dalam kondisi rusak maka akan menyebabkan kebocoran udara dingin dalam Cold Storage. Hal ini bisa diketahui dengan adanya kondensasi atau titik-titik air di sekitar pintu Cold Storage. Kebocoran udara dingin tersebut akan menyebabkan lamanya pencapaian suhu dan beban operasional compressor yang lebih berat. Gambar 3. Gasket Pintu Pembersihan Evaporator Evaporator adalah alat untuk menyerap udara panas didalam Cold Storage dan menghembuskan lagi berupa udara dingin. Udara di dalam evaporator akan melewati pipa-pipa yang terdapat refrigerant bersuhu rendah. Unit evaporator berpengaruh besar dalam proses pendinginan. Maka tidak boleh ada bunga es yang menempel pada evaporator, karena dapat menyebabkan ice blocking dan pendinginan tidak akan berjalan dengan maksimal. Ice blocking dapat terjadi karena ada uap air yang menempel pada sirip-sirip evaporator. Maka disarankan tidak terlalu sering membuka tutup pintu atau tidak membuka pintu terlalu lama untuk menghindari masuknya uap air dari luar masuk ke dalam Cold Storage. Cold Storage sudah dilengkapi dengan fitur electric defrost heater (elemen pemanas elektrik), yang berfungsi untuk menghilangkan bunga es yang menempel pada evaporator. Fitur defrost dapat diatur berdasarkan tingkat operasional Cold Storage, semakin berat operasionalnya maka defrost akan semakin sering. Periksa secara berkala elemen pemanas pada evaporator supaya fungsi defrost dapat berjalan optimal. Segera lakukan penggantian apabila elemen pemanas sudah mati atau tidak berfungsi. Gambar 4. Evaporator Pemeriksaan Panel Kontrol Panel kontrol berfungsi untuk mengatur operasional Cold Storage dan terdiri dari berbagai macam komponen elektrik. Operasional Cold Storage yang running terus menerus dapat mengakibatkan komponen elektrikal menjadi aus. Lakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan tidak ada sambungan kabel yang kendor agar komponen elektrik tidak overheating. Gambar 5. Panel Kontrol Cold Storage Perawatan Cold Storage merupakan aspek penting untuk memastikan efisiensi operasional dan kualitas produk yang disimpan tetap optimal. Dengan melakukan perawatan rutin pada komponen-komponen utama tersebut, Cold Storage dapat beroperasi dengan efisien, mengurangi risiko kerusakan, dan menjaga kualitas produk yang disimpan.

Tips Merawat Cold Storage Agar Tetap Optimal dan Tahan Lama Read More »

Daging Beku dan Daging Segar, Mana yang Lebih Baik?

Daging Beku dan Daging Segar, Mana yang Lebih Baik? Gambar.1 Daging Beku (Shutterstock) Pandangan masyarakat bahwa daging beku adalah “nomor dua” atau dianggap kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan daging segar sering kali muncul dalam diskusi tentang pilihan makanan. Salah satu alasan mengapa daging beku sering dianggap kualitasnya lebih rendah adalah karena persepsi bahwa daging segar lebih baik dari segi rasa dan tekstur. Beberapa orang percaya bahwa proses pembekuan dapat mempengaruhi kelembutan dan rasa daging, sehingga daging segar dianggap lebih unggul. Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang potensi kerusakan selama proses pembekuan dan pencairan. Namun pada faktanya, daging beku yang disimpan dan diproses dengan benar memiliki kualitas nutrisi yang setara dengan daging segar. Berikut ini adalah proses pembekuan daging yang tepat: Pemilihan Tempat Pembekuan: Pilih tempat pembekuan yang memiliki suhu dingin dan stabil untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga. Koronka Nusantara, sebagai perusahaan penyedia jasa cold storage, menawarkan solusi custom cold storage yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik bisnis Anda. Seperti untuk tempat pembekuan daging, kami menyediakan freezer room dengan suhu -18°C atau lebih rendah. Hal ini dapat membantu menghambat pertumbuhan mikrobia dan memperpanjang umur simpan daging. Pengemasan yang Baik: Pengemasan yang baik sangat penting untuk mencegah kontaminasi bakteri. Gunakan kemasan yang tertutup rapat dan tidak ada lubang untuk memastikan bahwa daging tidak terkontaminasi selama penyimpanan. Pengawasan Kualitas: Pastikan untuk memantau kualitas daging sebelum dan setelah pembekuan. Periksa apakah ada tanda-tanda kerusakan atau kontaminasi pada daging. Daging beku adalah pilihan praktis dan ekonomis untuk memasok bahan makanan, baik untuk keperluan sehari-hari di rumah maupun untuk keperluan komersial. Mengolah daging beku bisa menjadi cara yang praktis dan efektif untuk memberikan makanan bergizi. Namun, penting untuk memproses daging beku dengan cara yang benar untuk memastikan kualitas, keamanan, dan tekstur yang tepat. Berikut adalah cara mengolah daging beku dengan benar dan tepat:  Mencairkan Daging Beku: Pencairan daging beku dapat dilakukan dengan memindahkan daging beku dari freezer ke dalam kulkas dan biarkan mencair secara perlahan selama beberapa jam atau semalaman. Metode ini menjaga suhu tetap rendah dan mengurangi risiko pertumbuhan bakteri. Selain itu, daging beku juga dapat dicaikan dengan menggunakan fungsi defrost pada mikrowave, namun pastikan daging segera dimasak setelah pencairan. Tidak Membekukan Kembali Daging Beku yang Sudah Dicairkan: Hindari membekukan kembali daging yang sudah dicairkan untuk menjaga keamanan pangan dan kualitas daging. Pembekuan kembali daging beku dapat mengurangi kualitas rasa dan tekstur daging. Selain itu, pembekuan dan pencairan berulang dapat merusak kandungan gizi daging, terutama vitamin dan mineral yang sensitif terhadap suhu. Hindari pembekuan kembali daging beku, untuk menghindari keracunan makanan dan untuk menjaga rasa serta tekstur daging agar tetap baik. Memasak Daging: Masak daging dengan metode yang sesuai seperti merebus, mengukus, atau memanggang. Hindari tambahan garam, gula, atau bumbu kuat yang dapat memengaruhi rasa dan tekstur. Selanjutnya masak daging hingga mencapai suhu internal yang aman: 63°C (145°F) untuk daging sapi dan 74°C (165°F) untuk daging unggas. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa daging beku, jika disimpan dan diproses dengan benar, memiliki kualitas yang setara dengan daging segar, baik dari segi gizi, rasa, maupun tekstur. Bahkan, kandungan nutrisinya dapat terjaga lebih lama dibandingkan dengan daging segar. Oleh karena itu, masyarakat dapat menjadikan daging beku sebagai pilihan utama dan praktis untuk dikonsumsi.

Daging Beku dan Daging Segar, Mana yang Lebih Baik? Read More »

Peran Cold Storage dalam Menjaga Kestabilan Rantai Pasokan Pangan (Food Supply Chain)

Peran Cold Storage dalam Menjaga Kestabilan Rantai Pasokan Pangan (Food Supply Chain) Rantai pasokan pangan (food supply chain) merupakan rangkaian aliran barang, informasi, dan proses dalam menghasilkan, mengangkut, dan mendistribusikan produk pangan dari sumber (pemasok) ke tujuan akhir (pelanggan atau pembeli). Rantai pasokan pangan yang stabil memiliki dampak yang sangat signifikan dalam menghasilkan produk pangan yang aman dan berkualitas tinggi. Gambar 1. Alur Rantai Pasokan Pangan Menurut Tobing (2015) rantai pasok pangan memiliki berbagai keunikan yang dipengaruhi oleh beberapa karakteristik sebagai berikut: Karakteristik Produksi/Sumber: Melibatkan proses biologis dan waktu panen yang dapat meningkatkan variabilitas dan risiko kerusakan. Hal ini membutuhkan penanganan yang fleksibel dan teknik khusus dalam pengelolaannya. Karakteristik Produk dan Distribusi: Produk yang cepat rusak memerlukan sistem distribusi yang tepat untuk memastikan kualitas tetap terjaga. Preferensi Konsumen: Konsumen sangat peka terhadap masalah kesehatan dan isu lingkungan, yang memengaruhi permintaan serta standar produk. Hal ini sering terjadi pada sayuran, buah-buahan, daging, dan ikan yang memiliki umur simpan yang sangat pendek. Maka diperlukan penanganan khusus dari tahap pasca panen dari petani hingga sampai ke konsumen. Penanganan khusus ini bisa ditemukan dengan penggunaan cold storage sebagai tempat penyimpan produk, yang mana berfungsi dalam memperlambat  penurunan kualitas produk dan memperpanjang masa simpan produk, sehingga umur produk menjadi lebih lama. Cold storage adalah fasilitas penyimpanan yang dirancang khusus dengan suhu tertentu yang digunakan untuk menyimpan berbagai jenis produk, terutama produk yang mudah rusak seperti produk pangan, dengan tujuan untuk menjaga kesegarannya. Dengan mempertahankan kualitas produk, mengurangi kerusakan, mendukung produksi musiman, dan meningkatkan efisiensi logistik, cold storage berperan penting dalam memastikan produk pangan tersedia dengan baik dan aman untuk dikonsumsi. Koronka Nusantara menawarkan pembuatan/pengadaan custom cold storage sesuai kebutuhan bisnis Anda. Menggunakan produk cold storage dari Koronka Nusantara dapat menjadi langkah investasi yang tepat dalam pengadaan fasilitas cold storage dan teknologi penyimpanan yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang baik bagi produsen, distributor, maupun konsumen, serta meningkatkan keseluruhan keberlanjutan rantai pasokan pangan.

Peran Cold Storage dalam Menjaga Kestabilan Rantai Pasokan Pangan (Food Supply Chain) Read More »

Manfaat Cold Storage dalam Bidang Agribisnis

Manfaat Cold Storage dalam Bidang Agribisnis Sektor agribisnis di Indonesia menjadi salah satu sektor yang paling penting. Hal tersebut didukung oleh luasnya lahan pertanian Indonesia yang subur sehingga dapat memberikan kontribusi yang cukup besar untuk perekonomian di Indonesia. Bahkan, sektor agribisnis telah mengekspor berbagai macam hasil pertanian ke berbagai negara. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekonomi Indonesia meningkat sebesar 5,11 persen pada kuartal pertama tahun 2024. Namun, sektor pertanian mengalami penurunan sebesar -3,54 persen akibat gangguan produksi komoditas pertanian pada awal tahun (Liputan6.com, 2024). Gambar 1. Sektor pertanian (Nasional Tempo.co) Rendahnya hasil produktivitas sektor agribisnis/pertanian disebabkan oleh fenomena El Nino yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 2023 sehingga produktivitas pertanian menjadi menurun. Dalam kondisi seperti ini, teknologi penyimpanan hasil pertanian sangat dibutuhkan dalam mengurangi pemborosan, menjaga kestabilan pasokan pangan, dan meningkatkan pengelolaan rantai pasokan. Selain itu, penyimpanan yang efektif juga mendukung diversifikasi produk, mempertahankan kualitas dan nilai gizi, serta memperkuat ketahanan pangan. Investasi dalam teknologi penyimpanan yang efisien merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan kestabilan dalam sektor pertanian, terutama di masa-masa sulit. Salah satu teknologi penyimpanan hasil pertanian adalah cold storage. Cold storage merupakan gudang pendingin dengan teknologi penyimpanan yang memanfaatkan suhu rendah untuk menjaga kesegaran dan kualitas produk. Cold storage digunakan untuk memperlambat proses biologis seperti pembusukan, pematangan, dan pertumbuhan mikroorganisme pada berbagai jenis produk, termasuk makanan dan bahan pertanian. Dalam bidang agribisnis, cold storage memainkan peran penting dalam menjaga kualitas dan kesegaran produk, serta mengurangi kerugian pasca panen. Sebagai dukungan di bidang agribisnis dalam menanggulangi dampak El Nino, Koronka Nusantara sebagai pabrik cold storage menawarkan Cold Storage Chiller yang memiliki suhu operasional +8 s/d +2 derajat Celcius dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian yang membutuhkan temperatur rendah namun tidak sampai kondisi beku. Dengan produk Cold Storage Chiller dari Koronka Nusantara diharapkan dapat membantu para kelompok petani lokal untuk tetap menjaga kualitas mutu hasil pertanian di tengah menurunnya produktivitas akibat dampak dari El Nino. 

Manfaat Cold Storage dalam Bidang Agribisnis Read More »

LAMA PENYIMPANAN PRODUK MAKANAN

Pernahkah Anda mendapati makanan yang Anda simpan dalam suhu rendah ternyata sudah busuk atau basi? Kebanyakan orang menganggap bahwa dengan menyimpan makanan dalam kulkas, maka makanan tersebut akan bertahan dalam waktu lama. Padahal tidak selalu demikian. Makanan memiliki jangka waktu bertahan tertentu saat disimpan dalam kulkas. Lalu, berapa lama makanan bisa disimpan dalam Cold Storage? Kulkas? Freezer? Lamanya masa penyimpanan produk makanan pada suhu dingin berikut daftarnya : PRODUK KULKAS/CHILLER FREEZER DAGING MERAH 3 – 4 HARI 12 BULAN DAGING UNGGAS 1 – 2 HARI 12 BULAN IKAN LAUT 1 – 2 HARI 12 BULAN DAGING GILING 1 – 2 HARI 3 – 4 BULAN DAGING OLAHAN 2 MINGGU 12 BULAN BUAH 3 – 5 HARI -/+ 8 BULAN SAYURAN 3 – 5 HARI 8 BULAN Suhu yang tepat untuk penyimpanan : Jika produk setelah di beku kan, lalu produk di simpan di suhu freezer untuk menjaga kesegaran dan kualitas produk. Faktor penentu daya tahan makanan Daya tahan makanan berbeda-beda antara satu jenis makanan dengan makanan lainnya. Penyebab makanan busuk biasanya adalah berkembangnya bakteri pada makanan tersebut. Bakteri tersebut dapat mengeluarkan racun yang berbahaya pada makanan. Jika dikonsumsi, bisa menimbulkan gejala keracunan makanan seperti nyeri perut, muntah, diare, dan demam. Pada suhu panas, bakteri akan mati, sementara pada suhu dingin bakteri tidak mati namun berhenti berkembang. Itulah mengapa proses penyimpanan makanan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Apa saja faktor yang menentukan daya tahan makanan? Ada beberapa makanan yang tidak di sarankan disimpan di suhu dingin berikut daftarnya dan alasannya :

LAMA PENYIMPANAN PRODUK MAKANAN Read More »